Bonus Mengintip Tante

Cerita Sex Bonus Mengintip Tante, Sejak tinggal dirumah nenek, aku bener-bener dimanja soal sex, juga soal duit. Sampai suatu ketika rumah nenek kedatangan tamu dari Manado, namanya Tante Wine. Menurut nenek Tante Wine ini tinggalnya di desa jadi agak kolot gitu. Tapi pas pertama dikenalkan, aku tidak melihat wajah desa dari Tante Wine. Raut muka yang cantik (nggak berbeda jauh dengan nenek Elsa) dengan postur yang semampai lagipula putih bersih membuat orang tidak mengira kalau Tante Wine adalah wanita desa. Satu-satunya yang bisa meyakinkan kalau Tante Wine orang desa adalah logat bahasanya yang bener-bener medok. Simak kelanjutan cerita sex bonus mengintip tante hanya di sexceritadewasa.com .

Akupun langsung akrab dengan Tante Wine karena orangnya lucu dan suka humor. Bahkan aku sering ngeledek karena dialeknya yang ngampung itu. Wajahnya keliatan agak Indo dengan tinggi kutaksir 162 cm. Pinggangnya langsing, lebih langsing dari nenek Elsa, dan yang bikin pikiran kacau adalah buah dadanya yang lumayan gede. Aku nggak tau persis ukurannya tapi cukup besar untuk menyembul dari balik daster.

Pikiran kotorku mulai bermain dan mengira-ngira. Apakah Tante Wine haus sex seperti kakaknya? Kalau kakaknya mau kenapa adiknya nggak dicoba? Akan merupakan sebuah pengalaman sex yang seru kalo aku bisa menidurinya. Pikiran-pikiran seperti itu berkecamuk dibenak kotorku. Apalagi dengan bisanya aku tidur dengan nenekku, (dan banyak wanita STW) rasanya semua wanita yang umurnya diatas 35 kuanggap akan lebih mudah ditiduri, hanya dengan sedikit pujian dan rayuan.

Dirumah, nenek Elsa sudah beberapa kali wanti-wanti padaku jangan sampe aku perlakukan Tante Wine sama sepertinya, rupanya Elsa cemburu karena ngeliat kemingkinan itu ada. Sampai suatu ketika nenek sedang pergi dengan kakek ke Surabaya selama dua hari. Sehari sebelum berangkat aku sempat melampiaskan nafsuku bersama Elsa di sebuah motel deket rumah, biar aman. Disana sekali lagi nenek Elsa wanti-wanti. Aku mengiyakan, aku bersusaha meyakinkan.

Setelah nenek dan kakek berangkat aku mulai menyusun rencana. Dirumah tinggal aku, Tante Wine dan seorang pembantu. Hari pertama niatku belom berhasil. Bebeapa kali aku menggoda Tante Wine dengan cerita-cerita menjuurus porno tapi Tante nggak bergeming. Saking nggak tahan nafsu ingin menyetubuhi Tante Wine, malamnya aku coba mengintip saat dia mandi. Dibelakang kamar mandi aku meletakkan kursi dan berencana mengintip dari lubang ventilasi.

Hari mulai malam ketika Tante Wine masuk kamar mandi, aku memutar kebelakang dan mulai melihat aktifitas seorang wanita cantik didalam kamar mandi. Perlahan kulihat Tante Wine menanggalkan daster merah jambunya dan menggantungkan di gantungan. Ups! Ternyata Tante Wine tidak memakai apa-apa lagi dibalik daster tadi. Putih mulus yang kuidam0idamkan kini terhampar jelas dibalik lubang fentilasi. Pertama Tante Wine membasuk wajahnya. Sejenak dia bengong dan tiba-tiba tangannya mengelus-elus lehernya, lama. Perlahan tangan itu mulai merambah buah dadanya yang besar. Aku berdebar, lututku gemetaran melihat adegan sensual didalam kamar mandi. Jemari Tante Wine menjeljah setiap jengkal tubuhnya yang indah dan berhenti diselangkangannya. Badan Tante Wine bergetar dan dengan mata mengatup dia sedikit mengerang ohh! Dan tubuhnya kelihatan melemas. Dia orgasme. Begitu cepatkah? Karena Mr. Happy-ku juga sudah menggeliat-geliat, aku menuntaskan nafsuku dibelakang kamar mandi dengan mata masih memandang ke dalam. Nggak sadar aku juga mengerang dan spermaku terbang jauh melayang.

Dalam beberapa detik aku memejamkan mata menahan sensasi kenikmatan. Ketika kubuka mata, wajah cantik Tante Wine sedang mendongak menatapku. Wah ketahuan nih. Belum sempat aku bereaksi ingin kabur, dari dalam kamar mandi Tante Wine memanggilku lirih.
“Andy, nggak baik mengintip,” kata tante Wine.
“Ma ma maafin,” jawabku gagap.
“Nggak apa-apa, dari pada disitu mendingan..,” kata Tante Wine lagi sambil tangannya melambai dan menunjuk arah ke dalam kamar mandi.
Aku paham maksudnya, dia memintaku masuk kedalam. Tanpa hitungan ketiga aku langsung loncat dan berlari memutar kedalam rumah dan sekejab aku sudah stand by di depan pintu kamar mandi. Smataku sedikit melongok sekeliling takut ketahuan pembantu. Hampir bersamaan pintu kamar mandi terbuka dan aku bergegas masuk. Kulihat Tante Wine melilitkan handuk ditubuhnya. Tapi karena handuknya agak kecil maka paha mulusnya jelas terlihat, putih dan sangat menggairahkan.

“Kamu pake ngitip aku segala,” ujar Tante Wine.
“Aku kan nggak enak kalo mau ngomong langsung, bisa-bisa aku di tampar, hahaha,” balasku.
Tante Wine memandangku tajam dan dia kemudian menerkam mulutku. Dengan busanya dia mencumbuku. Bibir, leher, tengkuk dan dadaku nggak lepas dari sapuan lidah dan bibirnya. Melihat aksi ini nggak ada rasa kalo Tante Wine tuh orang desa. Ternyata keahlian nge-sex itu tak memandang desa atau kota ya.

Sekali sentak kutarik handuknya dan wow! Pemandangan indah yang tadi masih jauh dari jangkauan kini bener-bener dekat, bahkat menempel ditubuhku. Dalam posisi masih berdiri kemudian Tante Wine membungkuk dan melahap Mr. happy yang sudah tegak kembali. Lama aku dihisapnya, nikat sekali rasanya. Tante Wine lebih rakus dari nenek Elsa. Atau mungkin disinilah letak ‘kampungan’nya, liar dan buas. Bebrapa detik kemudian setelah puas mengisapku, tante Wine mengambil duduk dibibir bak mandi dan menarik wajahku. Kutau maksudnya. Segera kusibakkan rambut indah diselangkangannya dan bibir merah labia mayora menantangku untuk dijilat. Jilatanku kemudian membuat Tante Wine menggelepar. Erangan demi erangan keluar dari mulut Tante Wine.

“Andi kamu hebat, pantesan si Elsa puas selalu,” cerocos Tante Wine.
“Emangnya Tante Wine tau?” jawabku disela aktifitas menjilat.
“Ya nenekmu itu cerita. Dan sebelum ke Surabaya dia wanti-wanti jangan menggodaku, dia cemburu tuh,” balas Tante Wine.
Ups, rupanya rahasiaku sudah terbongkar. Kuangkat wajahku, lidahku menjalar menyapu setiap jengkal kulit putih mulus Tante Wine.
“Sedari awal aku sudah tau kamu mengintip, tapi kubiarkan saja, bahkan kusengaja aja tadi pura-pura orgasme untuk memancingmu, padahal sih aku belum keluar tadi, heheh kamu tertipu ya, tapi Ndy, sekarang masukin yuk, aku bener-bener nggak tahan mau keluar,” kata Tante Wine lagi.
Aku sedikit malu juga ketahuan mengintip tadi.

Masih dalam posisi jongkok di bibir bak mandi, kuarahkan Mr. happy ke vaginanya. Tante Wine mengerang dan merem melek setiap kuenjot dengan batang kemaluanku yang sudah besar dan memerah. Lama kami bertarung dalam posisi ini, sesekali dia menarik tubuhku biar lebih dalam. Setelah puas dengan sensasi ini kami coba ganti posisi. Kali ini dalam posisi dua-duanya berdiri, kaki kanannya diangkat dan diletakkan diatas toilet. Agak sedikit menyamping kuarahkan Mr. Happy ke vaginanya. Dengan posisi ini kerasa banget gigitan vaginanya ketiga kuenjot keluar masuk. Kami berpelukan dan berciuman sementara Mr. Happy masih tetep aktif keluar masuk.

Puas dengan gaya itu kami coba mengganti posisi. Kali ini doggie style. Sambil membungkuk, tante Wine menopangkan tangan di bak mandi dan dari belakangnya kumasukkan kemaluanku. Uhh terasa nikmatnya karena batang Mr. Happy seakan dijepit dengan daging yang kenyal. Kutepuk tepuk pantatnya yang mulus dan berisi. Tante Wine mendesis-desis seperti kepedesan. Lama kami mengeksplorasi gaya ini.

Dalam beberapa menit kemudian Tante Wine memintaku untuk tiduran di lantai kamar mandi. Walaupun agak enggan, kulakuin juga maunya, tapi aku tidak bener-bener tiduran karena punggungku kusenderkan didinding sementara kakiku selonjoran. Dan dalam posisi begitu aku disergapnya dengan kaki mengangkangi tubuhku. Dan perlahan tangan kanannya memegang Mr. Happy, sedikit dikocoknya dan diarahkan ke vagina yang sudah membengkak. Sedetik kemudian dia sudah naik turun diatas tubuhku. Rupanya Tante Wine sangat menikmati posisi ini. Buktinya matanya terpejam dan desisannya menguat.

Lama kubiarkan dia menikmati gaya ini. Sesekali kucium bibirnya dan kumainkan pentil buah dadanya. Dia mengerang nikmat. Dan sejenak tiba-tiba raut mukanya berubah rona.
Dia meringis, mengerang dan berteriak.
“Ndy, aku mau nyampe nih, oh, oh, oh, ah, ah nikmatnya,” erangnya.
Tangannya meraih tubuhku dan aku dipeluknya erat. Tubuhnya menggeliat-geliat panas sekali.
“Ohh,” ditingkah erangan itu, kemudian tubuhnya melemah dipangkuanku.

Dalam hatiku curang juga nih Tante, masak aku dibiarkan tidak tuntas. Masih dalam posisi lemas, tubuhnya kutelentangkan di lantai kamar mandi tanpa mencabut mr happy dari vaginanya. Dan perlahan mulai kuenjot lagi. Dia mengerang lagi mendapatkan sensasi susulan. Uh tante Wine memang dahsyat, baru sebentar lunglai sekarang sudah galak lagi. Pinggulnya sudah bisa mengikuti alur irama goyanganku. Lama kami menikmati alunan irama seperti itu, kini giliranku mau sampai.
“Tante aku mau keluarin ya”, kataku menahan gejolak, bergetar suaraku.
“Sama-sama ya Ndy, aku mau lagi nih, ayo, yok keluarin, yok, ahh”.
Dibalik erangannya, akupun melolong seperti megap-megap. Sejurus kemudian kami sudah berpelukan lemas dilantai kamar mandi. Persetan dengan lantai ini, bersih atau nggak, emangnya gue pikirin. Kayaknya aku tertidur sejenak dan ketika sadar aku segera mengangkat tubuh Tante Wine dan kamipun mandi bersama.

Selesai mandi, kami bingung gimana harus keluar dari kamar mandi. Takut Bi Ijah tau. Kubiarkan Tante Wine yang keluar duluan, setelah aman aku menyusul kemudian. Namun bukannya kami kekamar masing-masing, Tante Wine langsung menysul ke kamarku setelah mengenakan daster. Aku yang masih telanjang di kamarku langsung disergapnya lagi. Dan kami melanjutkan babak babak berikutnya. Malam itu kami habiskan dengan penuh nafsu membara. Kuhitung ada sekitar 7 kali kami keluar bersama. Aku sendiri heran kenapa aku bisa orgasme sebanyak itu. Walaupun di ronde-ronde terakhir spermaku sudah tidak keluar lagi, tapi rasa puas karena multi orgasme tetap jadi sensasi.

Selama 2 hari nenek Elsa di Surabaya, aku habiskan segala kemampuan sexualku dengan Tante Wine. Sejak kejadian itu masih ada sebulan tante Wine tinggal dirumah nenek Elsa. Selama itu pula aku kucing-kucingan bermain cinta. Aku harus melayani nenek Elsa dan juga bermain cinta dengan Tante Wine. Semua pengalaman itu nyata kualami. Aku nggak merasa capek harus melayani dua wanita STW yang dua-duanya punya nafsu tinggi karena aku juga menikmatinya.

Gairah Tanteku

Cerita Panas ini terjadi saat gw masih berumur 16thn dan masih bersekolah di salah satu SMA di Jakarta. Nama gw Doni peranakan Canada – Indonesia so kata teman-teman wajah gw lumayan….ganteng_hehehe.dengan tinggi 180cm bisa dibilang gw di atas rata2 jadi bakal gampang ngegaet kaum hawa. Gw lahir di Canada tapi wktu umur 10thn Papa ditugasin tuk balik lg kerja di Jakarta so gw juga ikut,mula2 Jakarta asing juga bagi gw tapi lama kelamaan gw juga dapat terbiasa.
Terus terang walau lama tinggal di Luar pemikiran gw lebih condong ke pemikiran timur coz nyokap tetap berpegang teguh pada adat istiadat timur and terus menanamkan adat istiadat plus prinsip2 yg keras ma anaknya.awal mula kisah gw ni dimulai saat musim liburan,bokap n nyokap gw balik ke Canada tuk liburan tapi gw ga ikut karena males bgt kalo cuma bentar doank liburan ke sana sogw lebih milih liburan di sini. Sebelum berangkat Mama bilang ma gw kalau nanti bosen di sini mendingan jalan – jalan ke bandung aja sekalian jenguk kakek serta tante Anne(adik Mama) dan seingatku Tante Anne dah lama bgt ga ke Jakarta dan mama hanya berhubungan via telphone doank.
Petualangan dimulai ketika seminggu kemudian gw maen ke Bandung,hari pertama di Bandung gw habiskan melepas kangen ma kakek. hari kedua di Bandung gw minta di antar ma supir ke rumahnya tante Anne. Rumahnya terletak di salah satu kompleks perumahan yg cukup elit di Bandung,sebelumnya mama sudah menelfon dan memberitahukan kepadanya bahwa gw akan datang.
”Doni…..wahh sudah besar sekali kamu sekarang yah,sudah tidak ngeh lagi tante sama kamu sekarang…Hahaha” kira-kira begitulah katanya sewaktu pertama kali melihatku setlah sekian tahun ga ketemu. Wajahnya masih saja seperti yang dulu seakan tidak bertambah tua sedikitpun. ”Oh yah..tuh supirnya disuruh pulang ja nanti Doni pake aja mobil tante kalau mau pulang” gw pun mengiyakan dan menyuruh supir pulang. Hari itu kami banyak bercerita dan tak terasa tiba waktunya untuk dinner.
”makan dulu yuk Don…itu sudah disiapkan makanannya sama bibi”katanya sambil menunjuk pembantunya. ”kita tidak menunggu om joe dulu tante”gw coba menanyakan suaminya.”ga usah lah tadi om sudah nelf dan bilang ga bakal pulang malam ini”tante anne menjelaskan,maklum suaminya tante anne anak salah satu konglomerat di Bandung.rumah sebesar ini Cuma dihuni sendirian bersama pembantunya karena walau dah lama menikah tapi tante yg satu ini mang lom dikaruniai anak.sambil makan kami bercerita panjang lebar.
”kamu berani pulang sendiri semalam ini don”katanya sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan jam 21.00. ”ahh berani kok tante…”jawab gw. ”mendingan kamu tidur disini aja malem ini deh…nanti tante yang telephone kakek,lagian diatas kan ada kamar kosong”. Aku pun mengiyakan tawaran tante anne dan dalam hati aku mengira dia menyuruhku menginap karena takut sendirian,sumpah ga da sama sekali pikiran negatif tentang tawarannya. ”oh iya…kalau mau mandi air panas pake aja kamar mandi di kamar tante.nanti kamu pakai aja bajunya om joe. Yuk sini”ajak tante anne.aku pun mengangguk sambil mengikutinya.kamar mandi yang dimaksud terletak di dalam kamarnya.
Lalu dia mengambil T-shirt dan celana pendek untuk gw,gw langsung membawa pakaian itu ke kamar mandi,abis mandi gw kaget ngliat tante anne. Dia tidur tengkurap peke aju tidur tipis,kliatan jelas Cdnya tapi gw gax ngliat tali bra di punggungnya.Terangsang juga ngliat pemandangan kaya gitu,kayaknya dia tertidur waktu nonton TV karena Tvnya masih menyala. Gw berjalan ke arah TV untuk matiin tuh TV,melihat adegan panas yg berlangsung di layar kaca mendadak gw langsung diem n ga jadi matiin.gw liat kebelakang tante anne masih tidur , sekedar iseng gw berdiri sambil nonton tuh adegan.
Tiba-tiba terdengar teguran halus tante anne diikuti tawa tertahannnya. Gw malu banget sambil berbalik ke belakang dan mencoba senyum semanis mungkin_wuakakaka,waktu gw berbalik tante anne dah duduk tegak diatas kasur. ”kirain tante dah tidur”gw coba memecahkan kebuntuan otak sambil berjalan keluar kamar. ”Doni..bisa tolong pijit badan tante ga??….pegel semua nih”terdengar suara hlaan nafas panjang dan suara kain jatuh ke lantai.saat gw berbalik mo ngejawab tante anne dah tidur tengkurap but this time dah tanpa baju tidur,satu-satunya yang masih dipakai cuma celana dalam….Thanks god >_< ”
Kayak kucing dikasih ikan asin…gw pun langsung jalan mendekati tante anne.sedikit canggung langsung gw letakkan tangan di bahunya. ”Om Joe kapan pulang tante?”iseng nanya coz takut di gerebek ma suaminya. ”hhhmmm…kalau om tuh jarang pulang,kebanyakan meeting ke luar kota kayak sekarang ini”jawab tante anne. ”Fffffuuuh…”Ngedenger kata luar kota helaan nafas panjang terdengar dari mulut gw.
”turun dikit donk Don…masa di bahu terus”pinta tante anne,aku pun langsung menurunkan pijitan ke daerah punggung. Tak lama kemudian ”kamu duduk aja di atas pantat tante…supaya lebih kuat pijitannya…”gw yang tadi duduk di sampingnya langsung mengambil posisi ke atas pantatnya. ”uungnnnghh…berat juga kamu..”dengus tante anne. ”Heehehehe…tadi katanya disuruh duduk di sini…”jawab gw asal coz dah ga konsen gara2 pantatntya yang empuk banget. Alat kelamin gw dah tegang banget,sesekali gw tekan ke belahan pantatnya tante anne.
”Sudah belom tan..??dah cape nih!!!”kata gw setelah tangan dah kerasa pegel. ”iyah….kamu berdiri duludeh…tante mu balik…”,aku berdiri dan tante anne sekarang berbalik posisi. Sekarang gw bisa ngliat wajahnya yg cantik serta payudaranya yang masih kenceng itu tepat di hadapan gw.puting susunya yang merah kecoklatan terlihat begitu menantang. Gw sampe bengong ngliat gituan.
”hey pijit bagian depan donk sekarang…”katanya. Gw duduk diatas pahanya,langsung ja gw remas dengan lembuat kedua teteknya. ”Geli….hihihihi”cekikikan dia. gw benar-benar dah ga bisa ngendaliinafsu gw lagi. Gw tarik celana dalamnya dengan agak kasar,gw akui inilah pertama kalinya ngliat wanita telanjang secara nyata di depan mata. Tante anne membuka lebar kedua pahanya begitu celana dalamnya gw lepas dan langsung mem*knya lengkap dengan sang klitoris yg dihiasi bulu halus yg dicukur rapi membentuk segitiga indah. ”kamu sudah sering beginian Don…??”,tanyanya, ”Ehhh…….tidak koq…baru kali ini tante..”jawabku dengan nafas yang semakin memburu..kata – kata pun sudah sulit tuk gw ucapkan. Nafas tante anne juga sudah gax tenang,kliatan dari dadanya yg dah mulai naik turun ga teratur.
”Jilatin donk sayang….”katanya memelas dengan mata sayu yang dah sangat meminta tuk gw puaskan. Mulanya ragu juga tapi gw dekatkan juga kepala gw ke mem*knya. ga ada bau sama sekali,pasti tante anne rajin ngerawat MQ’nya. Gw kluarin lidah menjamah mem*knya menjilati dari bawah menuju pusar . beberapa menit lidah gw bermain dengan mem*knya tante anne sudah mengerang dan menggelinjang kecil menahan nikmat. Gw berdiri sebentar dan melepaskan semua pakaian. Bengong dia ngliat kont*l gw yg 18 cm itu,gw Cuma tersenyum dan melanjutkan permainan lidah gw di mem*knya dia. Beberaa saat kemudian ia meronta menjepit kepalaku dngan pahanya lalu menekan kepala gw dengan kedua tangannya supaya lebih menempel lagi dengan mem*knya yang dah basah….
Ngeliat dia kyak gitu,langsung ja gw kulum klitorisnyadan memainkannya dengan lidah di dalam mulut, beberapa lama gw meraasakan cairan hangat semakin banyak mengalir keluar dari alat kelaminnya. ”Aaaarrrrgghhh….jilatan kamu enak banget Don”,kata tante anne waktu mencapai klimaks pertamanya. ”benar-benar hebat lidah kamu Don,tante sudah ga kuat lagi berdiri…dah lama tante ga puas kaya gini”,gw Cuma tersenyum kecil..perlahan ge tarik kedua kakinya ke pinggir tempat tidur,gw buka pahanya selebar-lebarnya dan skarang mem*knya dah terbuka lebar.
Nampaknya dia masih nikmatin peristiwa tadi dan ga sadar yang sedang gw lakuin. Begitu dia sadar kont*l gw sudah menempel di bibir mem*knya. Ia menjerit tertahan,lalu ia pura2 meronta nggak mau,gw juga ga tahu cara memasukkan kont*l gw karena punya tante anne berbeda banget ma punya bule yang sering gw liat di DVD2 blue. Lubangnya tante anne kecil banget mana bisa masuk neh pikir gw. Tiba2 gw ngerasain tangan tante anne memegang kont*l gw dan membimbing ke mem*knya,
”tekan disini yach don…tapi pelan – pelan,punya kamu gede banget…”pelan ia membantu senjata gw masuk ke dalam mem*knya. Belum sampai sperempat bagian yang masuk dia dah kesakitan dengan tangan kirinya yg masih menggenggam kont*l gw menahan laju masuknya agar tidak terlalu deras sementara tangan kanannya meremas kain sprei,kadang memukul tempat tidur. Gw ngerasain alat kelamin gw kaya di urut-urut di dalam, gw berusaha menekan lebih dalam tapi tangan tante anne menahannya. Langsung ja gw tarik tangannya and gw dorong masuk smua batangan gw yang dah tegang banget,”Doniii…..”,teriaknya sambil meluk badan gw kenceng banget.
Tante anne mengerang dan meronta,gw suka banget sensasi mukanya yang binal. Ga sabar lagi langsung gw pegang pinggulnya supaya berhenti meronta. Langsung gw pompa tubuh tante seiring kont*l gw yg keluar masuk dalam mem*knya, ”terusss Doni..puasin tante lagi sayang…”,bisik tante anne di telinga gw sambil matanya merem melek dan kukunya mencakar seluruh punggung gw . setelah lamaan dikit tante anne menggerakkan pinggulnya seiring dengan goyangan gw. ”tanteeee…..enak banget goyangannya..”gw mencoba ngeluari kata biar dia lebih bersemangat nggoyang pinggulnya.
Tiba – tiba gw ngerasain mem*knya menjepit barang gw dgn kuat,tubuh tante anne mulai menggelinjang hebat dengan nafas yang ga karuan. ”Tante sudah mau keluar Don…kamu masih lama ga sayang,tante pengen kita klimaks bareng”,katanya dengan mata merem melek. Aku tak menjawab hanya mempercpat goyanganku,tante anne menggelinjang dengan hebat,kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku…;Kurasakan aku juga sudah mau keluar,kusemprotkan saja seluruh cairanku di dalam kelaminnya. ”Argghhhh tante… ”kataku ketika cairanku membasahi alat kelaminnya dan kulihat tante anne hanya mendesis panjang…….
”Kamu hebat ..sudah lama tante tidak pernah klimaks_kita mandi lagi yuk..lengket nieh”,ia berjalan ke kamar mandi dan aku mengikutinya. Kami mandi sambil berpelukan di bawah siraman shower air hangat.
“Luv u so much tante….”,batinku sambil memeluknya

Gairah Sepupu

Perkenalkan namaku Steven, aku baru saja menginjak umur 30 tahun. Nama panggilan akrabku adalah Steve. Sekarang aku bekerja di suatu perusahaan multimedia design & marketing di Jakarta. Focus dari pekerjaanku lebih menuju ke arah website design. Statusku masih belum menikah, dan juga masih belum punya pacar yang serius.

Aku adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Kakak dan adikku laki-laki semua. Sekarang kakak kandungku telah berkeluarga, dan tinggal di Denpasar. Adik kandungku baru saja menyelesaikan kuliah-nya di Jakarta, dan kami tinggal bersama. Sejak aku pindah ke Jakarta, orang tua kami membeli rumah di Jakarta agar aku dan adikku tidak gampang terpengaruh oleh sifat dan kebiasaan anak-anak kost yang tidak benar. Memang aku akui itu kekhawatiran yang berlebihan, tapi bagi kami itu adalah berkat karena telah diberi tempat tinggal oleh mereka.

Kakak sulungku sejak tamat SMA (sekarang SMU) langsung pindah ke Denpasar, Bali. Dia mengambil bidang kedokteran, dan kini sekarang Dia berhasil membuka praktek sendiri di Denpasar dan menetap di sana. Setelah lama Dia berpindah dari 1 tempat ke tempat lain di daerah terpencil untuk ujian praktek dan juga karena suruhan pemerintah.

Aku ingin menceritakan pengalaman mengesankan sewaktu aku masih kuliah di kota pahlawan (Surabaya) hampir 10 tahun yang lalu. Pengalaman ini melibatkan hubungan aku dengan kakak sepupuku yang berumur 5 tahun lebih tua dari aku. Kalau aku pikir-pikir lagi sekarang, keperjakaanku diambil oleh kakak sepupuku sendiri, dan tidak ada rasa penyesalan di dalam diriku. Atau mungkin karena aku adalah lelaki, jadi masalah keperjakaan tidak terlalu penting bagi kami kaum Adam.

Kakak sepupuku bernama Jesi, tapi sejak kecil aku selalu memanggilnya Ci Jes atau hanya Cici yang artinya kakak perempuan. Kami berasal dari kota yang sama yakni kota Surabaya. Jesi adalah anak dari kakak perempuan ibuku. Dia adalah anak bibi yang sulung dari 3 bersaudara.

Jesi pada saat 10 tahun yang lalu berwajah cantik, putih, dengan tinggi badan 165 cm. Dadanya montok, meskipun tidak begitu besar. Tapi pinggulnya bukan main indahnya.

Aneh-nya anak dari ibuku semua-nya lelaki, sedangkan anak dari bibi semua-nya perempuan. Rumah kami tidaklah jauh, dan sewaktu masih SMP dan SMA, Jesi selalu mampir ke rumahku hampir tiap 3 kali seminggu. Karena tempat les private matematika, dan fisika-nya hanya beberapa meter dari rumahku. Jadi daripada pulang ke rumah-nya dulu seusai sekolah, dia memilih untuk mampir di rumahku untuk makan siang lalu berangkat lagi ke les private-nya.

Bisa dikatakan meskipun umur kami beda 5 tahun, tapi kami sangat akrab. Jesi ramah, lembut, dan sangat perhatian kepada kami. Kami menganggap Jesi seperti kakak kandung sendiri. Tapi aku selalu merasa Jesi memberi sedikit perhatian lebih kepadaku. Waktu itu aku berpikir mungkin karena kakak sulungku hampir seumur dengan-nya, dan adik bungsuku umur-nya beda amat jauh darinya. Tapi setelah kejadian malam itu, aku baru mengetahui kenapa Jesi memberikan perhatian lebih kepadaku.

Jesi sering bercurah hati denganku, meskipun waktu itu aku masih duduk di bangku SD. Kadang-kadang aku tidak mengerti apa yang dia omongkan. Kalau dia tertawa, aku pun ikut tertawa. Meskipun aku waktu itu tidak tau kenapa harus tertawa. Mengingat-ingat itu lagi, aku bisa tertawa sendiri sekarang. Jiwa anak-anak masih lugu dan murni.

Semenjak tamat SMA, Jesi pindah ke Bandung dan kuliah di sana. Sejak kepindahan Jesi, terus terang aku merasa kehilangan dan kadang-kadang rindu dengan-nya. Hanya setahun 2 kali Jesi pulang ke Surabaya, dan itu hanya untuk beberapa minggu saja. Dan yang mengesalkan, tiap kali Jesi pulang, selalu saja saat aku harus menghadapi ujian umum. Jadi waktuku untuk bermain-main dengan dia sangatlah terbatas.

Aku juga pernah sempat cemburu oleh lelaki yang sekarang menjadi suami Jesi, sewaktu Jesi membawa-nya pulang bertemu keluarga-nya dan keluargaku. Rasa cemburu ini sangatlah beda. Tidak sesakit rasa cemburu terhadap pacar sendiri. Mungkin rasa cemburu karena takut akan kehilangan kakak kesayangan saja. Lelaki itu bernama Bram. Bram berasal dari kota Samarinda, yang kebetulan kuliah di universitas yang sama dengan Jesi.

Hubungan Bram dan Jesi terus berlangsung sampai akhir-nya seusai kuliah, mereka memutuskan untuk segera menikah. Keputusan menikah ini atas permintaan Bram, karena dia harus kembali ke Samarinda dan melanjutkan usaha orang tua-nya. Jesi menikah di usia-nya yang ke 24 tahun. Tentu saja setelah menikah Jesi harus ikut Bram ke Samarinda.

Semenjak kepindahan Jesi ke Samarinda, hubungan kami sempat terputus selama 2 tahun. Dan kabar tentang Jesi hanya bisaku dapatkan dari bibi (ibu Jesi) saja. Pada saat itu Jesi masih belum dikaruniai seorang anak. Tiap kali aku bertanya kepada bibi mengapa sampai saat itu Jesi belum memiliki momongan, jawaban bibi selalu saja sama, yah antara kesibukan Jesi membantu usaha Bram atau Jesi sendiri masih belum siap memiliki momongan.

Ternyata memang benar, sejak Jesi menikah dan pindah bersama Bram di Samarinda, usaha Bram benar-benar lancar dan berkembang pesat. Bram memiliki toko yang luas dan terbagi menjadi 2 bagian. Bram menangani usaha business dibidang handphones dan aksesorinya. Sedangkan Jesi menangani usaha business di bagian konveksi dan aksesorinya seperti jepit rambut, anting-anting, dan sebagainya. Bram dan Jesi sering terbang ke Jakarta untuk order handphones, dan barang-barang model terbaru di Indonesia untuk dijual di toko mereka.

Suatu hari setelah 2 tahun lama-nya tiada kontak dengan Jesi. Tiba-tiba Jesi terbang ke Surabaya karena rindu dengan orang tuanya. Bram tidak datang bersamanya dan Jessi hanya tinggal untuk 10 hari saja. Tapi kunjungan kali ini tidak tepat pada waktunya. Rencana Jesi pulang ini untuk memberi kejutan buat orang tuanya, malah dia lebih dikejutkan lagi oleh orang tuanya. Waktu itu bibi dan paman harus terbang ke Thailand karena liburan dan tidak mungkin dibatalkan karena tiket dan semua akomodasinya sudah dibayar. Jadi Jesi bertemu dengan bibi/paman hanya untuk 2/3 hari saja. Selanjutnya Jesi harus menjaga rumah dan kedua adiknya. Saat itu aku masih duduk di bangku kuliah, dan kebetulan baru memasuki semester baru. Tiada kesibukan yang berarti di saat kami baru memasuki semester baru.

Pada hari Jumat siang (kira-kira jam 2 siang), sepulang dari kuliah, aku langsung memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Tidak seperti biasanya. Biasanya setiap hari Jumat, aku dan teman-teman kuliah pasti langsung ngafe atau istilahnya ngeceng (kalo bahasa kami bilangnya ‘mejeng’) di mall. Waktu tiba di rumah, Jesi sudah ada di sana dan lagi menonton VCD bersama pembantu.

“Halo Ci Jes, kapan datang?”, sapaku.
“Halo Steve. Baru aja datang. Cici bosan di rumah. Tara dan Dina lagi keluar tuh ama cowok-cowoknya. Jadi cici bosan di rumah sendiri. Jadi yah pindah aja di sini.”, jawabnya ringan.
“Ci Jes dah makan belum?”, tanya saja.
“Sudah tadi. Tuh ada ikan goreng ama sambel lalapan mbak punya. Mantep tuh!”, canda Jesi sambil melirik ke pembantuku.

Aku kemudian masuk kamar dan mengganti pakaian rumah. Jesi waktu itu sedang nonton film Armageddon (Bruce Willis). Salah satu film favoritku. Kemudian aku join dengannya nonton bersama-sama sambil makan siang di depan TV. Tapi memang benar, ikan goreng sambel lalapan pembantuku memang tiada tandingannya. Sempat saja aku tambah 2/3 piring.

Di tengah-tengah menonton VCD, pembantuku menawarkan kami jus buah. Tentu saja tawaran yang tidak boleh dilewatkan. Di siang bolong begini, jus buah segar adalah penawar yang paling tepat.

Aku duduk di atas sofa sambil kakiku naik di meja, dan Jesi duduk pas di sebelahku. Semakin lama Jesi semakin mendekat ke aku. Aku tidak begitu perduli karena aku sudah terbiasa dengan itu. Bau harum rambutnya sempat tercium saat itu. Jesi tampak bosan, mungkin karena dia telah nonton film itu dulunya.

“Steve, cici bosan nih!”, katanya.
“Trus Ci Jes mau ngapain?”, tanyaku.
“Ngga tau nih. Mau ke Thailand cici.”, jawabnya sambil tertawa.
“Ya sono, beli ticket! Steve anterin deh sekarang”, responku seadanya. Tiba-tiba Jesi mencubit perutku.
“Ci Jes mau ke mall ngga?”, tawaranku.
“Malas ah. Mall mall melulu. Ngga ada yang lain?”, tanya Jesi.
“Ada. Mau ke Tretes? Nginep di sono.”, tawaranku lagi.
“Boleh sih, tapi ngga hari ini. Masih panas dan macet lagi jam-jam gini.”, jawabnya.
“Trus sekarang Ci Jes mau ngapain?”, tanyaku sekali lagi.
“Ke kamar Steve yuk. Ada computer game baru ngga?”, tanya dia.
“Liat aja sendiri.”, jawabku santai.

Kemudian kami cabut dari depan TV dan membiarkan pembantuku nonton film itu sendiri. Di kamar aku menyalakan AC dan computer. Aku membiarkan Jesi main-main computerku, dan aku hanya berbaring di tempat tidur sambil membaca komik manga. Ternyata Jesi tidak jadi main game computer, tapi malah browsing-browsing foto-foto yang aku scanned sendiri. Jaman itu digital camera masih mahal dan kualitasnya jelek, tidak seperti saat ini. Jesi terlihat senyum-senyum sendiri melihat foto-foto kami waktu masih kecil.

Tiba-tiba bak kesambar petir, Jesi membuat aku mati kutu. Aku lupa total kalau di computer itu banyak koleksi film-film porno yang aku dapat dari teman-teman kuliah.
“Hayo apa ini, Steve?!”, tanya dia sedikit menyindir.
“Weleh Ci Jes jangan buka itu dong! Barang privacy! Khusus laki-laki.”, jawabku seadanya.
“Emang cewek ngga boleh liat yah?”, tanya dia menyindir lagi.
“Kalo cewek mau liat, boleh aja, tapi liat nanti saja atau kapan-kapan, jangan sekarang.”, jawabku sambil malu tidak karuan.
“Cici mau liat sekarang boleh kan?! Lagian cuman begini saja. Steve lupa yah, cici kan sudah punya suami.”, jawab dia lagi.
“Ya udah. Terserah Ci Jes. Tapi suaranya dikecilin yah. Ntar mbak kedengaran lagi.”, pintaku.

Tanpa basa-basi, Jesi langsung putar aja film-film porno itu. Anehnya seakan-akan Jesi terlihat menikmati film-film porno tersebut. Koleksiku termasuk banyak dan dari banyak negara, ada Amrik, Australia, Canada, Jepang, Hongkong, Taiwan, Thailand, dan sedikit saja yang Indo. Maklum bokep Indo saat itu masih susah didapat. Berbeda dengan jaman sekarang.

Cukup lama Jesi menonton film-film bokep itu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh panggilannya. Panggilan inilah awal dari segalanya.
“Steve, pinjitin cici dong? Minta mama tuh beliin kursi belajar yang enak. Bikin pegal aja.”, kata Jesi.
Terus terang sejak dulu, aku tidak pernah sungkan-sungkan untuk memijat Jesi apabila dia minta. Tapi kali ini aku keberatan, karena Jesi sedang nonton film porno. Sejak tadi aku pengen keluar dari kamar, dan membiarkan Jesi nonton sendirian. Tapi juga ada sedikit rasa ngga enak kalo meninggalkan dia sendiri. Aku berdiri di posisi yang serba salah. Akhirnya aku memutuskan untuk memenuhi permintaan Jesi.

“Ehmm…ehmmm…”, suara Jesi keenakan.
“Kurang keras, ci Jes?”, tanyaku.
“Cukup steve. Tapi rada turun ke lengan sedikit yah.”, pinta Jesi.

Sekarang mau tidak mau aku ikut nonton film bokep itu bersama Jesi. Aku tidak berani berkata apa-apa. Malu dan risih itu alasan yang paling tepat. Aku akui sejak dari tadi rudal aku sudah cukup berdiri, tapi masih belum maksimum.

Cukup lama aku memijat pundak dan lengan Jesi. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suaranya yang membuat jantungku seakan-akan mau copot.
“Steve, pengen pijet susu cici ngga?”, tanya Jesi.
Jeblerrr, kayak kesambar petir, ingin segera pingsan saja aku dengan pertanyaan Jesi itu.
“Err … maksud ci Jes apa yah?”, tanyaku pura-pura bego.
“Iya, cici tanya Steve. Pengen ngga pijet susu cici?”, jawab Jesi sambil tangannya meraba payu daranya sendiri.
“Err … “, hanya itu yang bisa saja jawab.

Dengan malu-malu aku turunkan kedua telapak tangan aku menuju kedua payu daranya, dan meremasnya lembut. Tubuh Jesi tiba-tiba terkejut sejenak, kemudian santai lagi. Hanya beberapa detik saja, tiba-tiba Jesi berkata:
“Steve, stop dulu. Bentar, cici mau lepas BH dulu.”
Gila benar nih, aku dibikin ngga karuan saja. Jesi melepaskan BH nya dari dalam kaos putihnya tanpa menanggalkan kaosnya.
“Nah, kalo begini Steve lebih leluasa.”, katanya santai.

Terang aja, aku bisa merasakan daging lembut yang menonjol jelas dia dadanya, meskipun masih terbungkus kaos putihnya. Aku menelan ludah, malu, risih, grogi tapi kedua telapak tangan masih meremas-remas payu daranya. Rudal penisku sekarang menjadi berdiri tegak, dan amat keras.

“Ehmm…ehmmm…ahhh”, suara Jesi perlahan-lahan berubah seperti suara pemain wanita di film bokep yang sedang kami tonton. Tangan kanan Jesi sekarang sudah tidak memegang mouse computer lagi, tapi meremas telapak tanganku yang sedang sibuk meremas-remas payu daranya.

Aku benar-benar masih hijau dibidang beginian. Edukasi seks yang aku dapatkan hanya dari film-film bokep saja. Reality seks experience masih belum pernah sama sekali. Ini saja pertama kali aku meraba, meremas payu dara seorang wanita.

“Ahh… Steve … ahhh … “, suara Jesi makin sexy dan inilah pertama kali aku melihat wajah Jesi dalam keadaan terangsang alias horny. Kakak sepupu yang biasanya manis dan lembut, kini berubah menjadi wanita yang sedang haus akan seks. Aku tidak pernah menyangka kalau Jesi ternyata sangat mahir di bidang ini.

Tanpa sungkan-sungkan lagi, Jesi bertanya dengan vulgarnya, “Steve, pengen gituan ama cici ngga?!”.
“Anu, gituan apa ci?”, tanyaku pura-pura bego lagi.
“Steve jangan pura-pura bloon ah”, jawab Jesi sambil mencubit tanganku.
“Tapi Steve emang ngga tau, pengen gituan apa sih?”, jawabku masih pura-pura lagi.
“Idihh Steve, reseh nih. Maksud cici itu, Steve pengen ngga ngentot ama cici?”, kali ini pertanyaannya semakin bertambah vulgar.

Istilah ‘ngentot’ jarang dipakai di Surabaya waktu jaman itu. Istilah ini umum dipakai di Jakarta dan sekitarnya. Mungkin karena dulunya Jesi pernah kuliah di Bandung, jadi istilah ini sudah biasa diucapkan olehnya.

“Hah?! Yakin nih ci Jes? Di sini sekarang? Ntar kedengaran mbak loh.”, jawab panik.
“Kunci aja pintunya. Kayaknya mbak lagi tidur siang. Lagian kita putar musik aja biar ngga kedengeran.”, jawab Jesi.

Tanpa diberi aba2, dengan cepat aku mengunci pintu kamar, kemudian menutup film bokep tadi dan menggantikannya dengan mp3 program. Jesi sudah berbaring di atas ranjangku sambil memandangku yang sedang berdiri di samping ranjang. Tidak tahu harus mulai dari mana.

Seakan-akan mengerti dengan tingkah lakuku yang mau hijau. Jesi kemudian menarik tubuhku agar bergabung dengannya di atas ranjang. Tanpa malu-malu, tangan Jesi menjulur ke dalam celana boxerku, dan dengan singkat saja batang penisku telah digenggamnya dengan mudah.

“Wah, kok dah tegang nih?”, tanya Jesi menggoda.
“Ah, ci Jes bisa aja nih?”, jawabku malu-malu.
“Steve pernah ngga gituan ama cewek lain?”, tanya Jesi penasaran.
“Menurut ci Jes gimana?”, jawabku malu-malu.
“Kalau menurut cici sih, kayaknya belum pernah yah. Steve masih malu-malu gitu … tapi MAU!”, godanya lagi.
“Cici ajarin Steve yah. Tapi ini untuk kali ini saja. Tidak bakalan ada lain kali. Cici mau ambil Steve punya perjaka.”, kata Jesi sambil tertawa.

Aku seperti tidak mengenal Jesi sebagai kakak sepupuku yang seperti biasanya. Perasaan sayang aku sebagai adik sepupu terhadap kakak sepupu berubah menjadi perasaan nafsu birahi. Pengen sekali aku menidurinya dan menikmati tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Dengan segera saja kulepas semua pakaian yang aku kenakan termasuk celana boxerku. Kini aku yang terlanjang bulat. Mungkin karena terlalu nafsu dan grogi, aku sampai lupa kalau Jesi masih berpakaian lengkap. Brrr… semburan angin AC benar-benar dingin. Dengan segera aku matikan AC di kamar. Reflek tubuh aku untuk menghindari dari masuk angin.

“Ci Jes, ngga lepas baju?”, tanya aku lugu.
“Ntar dulu, pelan-pelan dong sayang.”, jawab Jesi santai.

Terus terang panggilan kata ’sayang’ di sini berbeda sekali rasanya dengan kata ’sayang’ yang sering Jesi ucapkan dulu-dulunya. Kali ini seakan-akan kata ’sayang’ yang berarti seperti ‘aku milikmu’ atau ‘nikmatilah aku’, atau apalah gitu. Yang pasti berbau seks.

Aku berbaring di atas ranjang dengan posisi badan terlentang, kedua telapak tangan di atas perut, dan dengan batang penis yang menegang. Jesi seperti mengerti apa yang harus dia perbuat. Jesi mengarahkan tubuhnya diatas tubuhku dan memulai actionnya.

Pertama-tama dia mencium leherku, kemudian menjilati kuping aku. Tentu saja bulu romaku berdiri dibuatnya.
Aku mencoba mencium bibirnya, tapi tiap kali aku mencoba, Jesi selalu menghindar saja.
“Ci Jes, Steve mau cium bibir cici.”, kataku.
“Jangan Steve. Ciuman bibir kan hanya buat pacar. Cici kan bukan pacar kamu.”, jawab Jesi.

Aku hanya mengangguk saja pertanda setuju, dan kemudian membiarkan dirinya menjelajahi seluruh tubuhku. Jesi benar-benar mahir dalam bidang beginian. Dia dengan cepat bisa mengetahui dimana titik kelemahanku tanpa harus bertanya kepadaku. Dengan tanpa ragu-ragu dia mengulum lembut batang penisku, dengan sesekali menjilat-jilatnya. Tubuhku bak melayang di surga, setiap hisapan yang dia berikan terhadap batang penisku membuatku melayang-layang.

Cukup lama dia bermain dengan batang penisku, akhirnya dia berhenti dan membuka kaosnya. Oh my gosh, pertama kali ini aku melihat sepasang payu dara indah milik Jesi. Selama aku hanya menikmati bagian atasnya saja yang putih mulus ditutupi oleh baju renang. Kali ini semuanya terbuka lebar. Begitu putih, mulus, dan warna putingnya yang coklat muda menantang di depan mataku.

Jesi menyuruhku mengulum puting susu-nya. Untuk yang ini aku bisa, seperti mengulum permen cup-pa-cup saja.
“ahh … ahh …”, terdengar suara erangan halus Jesi. Dia berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar oleh pembantuku.
“Steve, tolong lepas celana cici dong?!”, pintanya lembut. Tentu saja tawaran yang mahal. Dengan segera aku lepaskan celana jeansnya plus celana dalamnya.

Sekali lagi … OH MY … aku menjadi sesak napas sekarang. Aku sekarang bisa melihat memek Jesi dengan jelas. Sungguh indah, lebih indah dari memek-memek yang pernah aku lihat dari film-film porno. Jembutnya juga halus dan tidak begitu lebat. Paha-nya mulus, dan perutnya langsing. Tidak pernah terpikir olehku sebelumnya bahwa Jesi se-sexy ini. Walaupun telah menikah lebih dari 2 tahun, Jesi masih rajin merawat bentuk tubuhnya.

Terpintas di dalam pikiranku untuk menjilat-jilati memek milik Jesi seperti yang sering aku lihat di film bokep. Tapi niat ini ditolak oleh Jesi, mungkin karena takut aku tidak tahan mencium aroma memek. Jadi aku hanya diperbolehkan untuk memainkan tanganku di bagian itilnya. Memek Jesi lembut sekali dan kini menjadi basah. Suara erangan nikmat Jesi semakin menjadi-jadi, dan kadang-kadang sedikit terlepas kontrol.

“Steveee, ahhh … ahhh … geli Steve…”, suara Jesi yang sedang bernapsu.
“Enak ci Jes?”, tanyaku. Tapi Jesi seakan-akan tidak mendengar pertanyaan ini. Dia masih tetap berkonsentrasi dan menikmati setiap sentuhan-sentuhan yang aku berikan.

Memek Jesi semakin basah dan licin. Kali ini tubuhnya sedikit menegang. Saat itu aku tidak mengerti apa yang akan terjadi dengannya, yang terdengar dari mulutnya hanya “Steve … ahh ahh … cici mau datangggg … cici mau datanggg”. Hanya dalam hitungan detik, tiba-tiba tubuh Jesi mengejang dan menjerit keras. Aku panik dan segera saja aku tutup mulutnya dengan tanganku. Napasnya terengah-engah, dan memelukku sekencang mungkin. Tubuh Jesi berkeringat, maklum saat itu AC telah aku matikan, mengingat Surabaya kota yang panas, tidak heran Jesi jadi berkeringat.

“Steve … thank you …”, katanya sambil terengah-engah.
“Steve mau rasain masuk ke sini ngga?”, katanya sambil menunjuk memeknya yang sudah basah. Aku hanya mengangguk malu-malu sambil berkata, “Kalo ci Jes ijinin, Steve mau aja masuk ke sana.”.
“Idih, genit kamu. Jelas cici ijinin dong. Masa cici cuma ijinin pegang. Kan tanggung.”, jawabnya genit.
Kemudian dia menambahkan, “Steve, tapi ini hanya untuk hari ini saja yah. Dan ini hanya rahasia kita berdua saja. Jangan sampai ini terbongkar ke orang lain, apalagi kalo sampai suami cici tau. Cici bisa bunuh diri.”, katanya serius.
“Husss … mana boleh begitu ci Jes”, jawabku tegas.
“Makanya, Steve harus jaga rahasia ini, ok?!”, pintanya. Aku hanya memberikan signal peace, yang berarti ‘I swear’.
“Sekarang Steve ambil posisi di atas cici. Cici tuntun dedek Steve dulu. Jangan sembarangan main tusuk yah?!”, katanya lagi. Aku hanya bisa mengangguk saja.

Dengan mengambil posisi di atasnya, Jesi mencoba menuntun batang penisku masuk ke dalam memeknya. Aku menjadi ngga sabar lagi, pengen cepat-cepat masuk ke dalam. Aku begitu bernafsu saat itu. Selesai berhasil menembus masuk ke dalam memek Jesi, mata Jesi terpejam dan mulutnya bersuara basah “ugghh…”. Saat penisku terbenam di dalamnya, aku belum ingin mencoba memainkan pinggulku. Aku ingin merasakan hangatnya memek Jesi untuk beberapa saat. Pertama kali penisku masuk ke liang vagina wanita.

“Kenapa Steve. Kok diam saja?”, tanya Jesi.
“Steve pengen diam dulu ci. Punya cici anget banget.”, jawabku.
“Enak?”, tanya Jesi sekali lagi, dan aku menganggukan kepalaku.
“Kalau gitu kocok sekarang yah, ntar kalau Steve pengen keluar pejunya, keluarin aja yah. Jangan mencoba untuk ditahan. Ini kan pertama kali buat Steve, jadi cici bisa maklum kalo Steve belum bisa mengontrol keluarnya peju.”, jelas Jesi.

Perlahan-lahan aku memainkan pinggulku. Aku belum terbiasa. Aku sedikit grogi. Jesi membantuku memainkan pinggulku agar dorongan dan irama kocokan batang penisku lebih berirama. Selangkangan Jesi dibuka lebih lebar olehnya, agar memberikan ruangan untukku bergerak lebih leluasa.

“Ahhh…Steve…cepet pinter kamu…yah di sono terus … terus lebih dalam lagi…”, puji Jesi. Aku hanya tersenyum saja.
“Uhhh … ohhh… uhhh…”, desahan Jesi menjadi-jadi. Jesi berusaha sekuat mungkin menahan desahannya agar tidak sampai terdengar terlalu keras. Jesi tampak bernafsu sekali, dan mulai mengeluarkan kata-katanya yang jorok. Aku pun mendengar kata-kata jorok Jesi, menjadi makin bernafsu juga. Aku merasa seperti lelaki satu-satunya yang mampu memuaskan nafsu birahi Jesi.

“Steveee … entotin cici terus … entot cici terus … kontolnya enakkk bangettt sihhh … uuuhhh…”.
Melihat kelakuan Jesi, aku menjadi seakan-akan terbawa olehnya, dan seperti penyakit menular, akupun mulai ngomong yang jorok-jorok pula.
“Iya ci … Steve entotin terus memek cici … kalo bisa entot terus foreverrr …”, kacau deh kata-kataku.
“Steveee … cici mau kencinggg … geliii bangettt … uuhhh …”.
Arti ‘kencing’ di sini bukan bukan air seni beneran, tapi karena terlalu gelinya Jesi merasa seakan-akan pengen kencing. Yang pasti memek Jesi makin basah saja.

“Uhh…ohhh … suka ngga ngentot ama cici … suka ngga? memek cici enak ngga? … “, tanya Jesi kacau.
“Enakkk bangettt cici … enakkk banget … Steve nanti kapan-kapan minta lagi yah? … ngga mau sekali doang, pleaseee …”, mohonku.
“Iyaaa … iyaaa … asal Steve sukaaa … Steve boleh entot cici terusss … uuhh … oohhh”, jawabnya. Aku menjadi amat gembira mendengarnya.
“Ci Jes suka ngentot ternyataa yahhh … baru tau Steve”, kataku.
“Siapaaa di dunia ini yang ngga suka ngentot, heh? Cici juga manusia kann…”, jawab Jesi.

Tubuhku terus memompa-mompa Jesi, dan kali ini aku yang menjadi berkeringat. Hampir seluruh badanku basah, dan itu membuat Jesi semakin bernafsu. Kadang-kadang dia mengusap dadaku yang berkeringat dengan telapak tangannya, dan kadang-kadang menjambak lembut rambutku.
“Ci Jes …ahhh… Steve kayaknya mau meledakkk ntar lagii … gimana nihhh”, kataku panik.
“Keluarin ajaaa kalo dah ngga tahann …”, jawabnya.
“Iyaaa … Steve mau keluarrr ntar lagii … cici siap-siap yah”, kataku lagi. Jesi hanya mengangguk saja.

Kupercepat lagi goyangan pingguku. Jesi menjadi seperti cacing kepanasan.
“Steveee … cici juga mau datanggg … enakk bener kontolnya sihhh …”, puji Jesi lagi.
“Ci Jes … dah dipuncakkk nihhh … ntar lagiii … ntar lagiii …”, kataku ngga karuan.
“Barengan yah sayanggg … ahhh ahhh … cici juga mau datang sayanggg …”, Jesi mengingau.

Mendengar kata ’sayang’ lagi, aku menjadi tambah bernafsu lagi. Bendungan pejuku sebentar lagi jebol, dan aku tau pasti kalau itu bakalan tidak lama lagi.
“Ci Jes … Steve ntar lagiii datanggg …”, kataku memberi aba-aba.
“Iya sayanggg, keluarin yah sayanggg … uuhhh … oohhh ….”.
Selang beberapa detik kemudian …
“Ci Jes … Steve datanggg … ahhhh … ahhhh …”, kataku sambil batang penisku mengeluarkan semua pejunya di dalam liang memek Jesi.
“Ahhh … Steve sayanggg … cici juga keluarrrr … ahhh … ahhh …”, sahut Jesi sambil memeluk tubuhku yang basah kuyung.

Kubiarkan batang penisku menumpahkan lava hangat di dalam liang memek Jesi. Jesi masih memeluk tubuhku dengan napas terengah-engah. Setelah selang beberapa saat, wajah kami saling berhadapan, dan Jesi segera mencium keningku.
“Steve, thank you sekali lagi yah.”, kata Jesi.
“Steve juga thank you buat ci Jes. Ini pengalaman berharga Steve.”, jawabku.
“Ngga nyesel kamu Steve?”, tanya Jesi penasaran.
“Tidak sama sekali.”, jawabku tegas yang kemudian terlihat Jesi tersenyum manis.
“Idih … peju perjaka banyak banget. Ngga cukup memek cici yang menampung. Tapi sekarang dah ngga perjaka lagi nih!”, canda Jesi. Aku hanya tersenyum saja.
“Tapi untuk ukuran perjaka, Steve termasuk hebat loh. Masih saja mampu bikin cici datang sekali lagi.”, pujinya.
“Ci Jes, bener ngga sih kalo cewek menelan peju perjaka bisa awet muda?”, tanyaku bercanda.
“Idih … mana ada yang begituan. Itu kan cuman mitos aja”, jawab Jesi.

Posisi batang penisku masih menancap di dalam memek Jesi. Masih agak keras sih, tapi nafsu birahiku sudah mereda. Aku biarkan batang penisku di dalam sana sambil memeluk tubuh Jesi. Tubuhku basah kuyup, dan untungnya Jesi tidak sungkan-sungkan memeluk tubuhku yang sedang penuh bermandikan keringat. Aku merasa Jesi memang sayang kepadaku.

Tak terasa total waktu kita berperang di atas ranjang lebih dari 3 jam. Jam 6 sorean Jesi pamit pulang, karena dia ada janji dengan teman-teman masa SMA-nya dulu. Pada malam harinya aku menerima sms darinya yang berkata: “Steve, ingat janjinya yah. Jangan bilang-bilang sama siapa-siapa. Ntar cici ngga kasih lagi loh?!”.

Kemudian aku balas smsnya, “Kalau ci Jes mau Steve tutup mulut tentang rahasia ini, tolong sumbat mulut Steve ama susu ci Jes lagi deh.”.

“Idih … masih kurang yah?! Dah ketagihan nih yah?! Ntar sebelon cici pulang ke Smrd, cici kasih lagi deh.”, balesnya.

Malam itu aku tidak bisa tidur, teringat-ingat kejadian erotis siang hari itu. Aku tidak menyangka kakak sepupu yang paling aku sayang dan yang paling aku hormati, kini telah aku tiduri. Aku tidak menyangka kalau Jesi adalah wanita pertama yang pernah aku tiduri. Yang lebih mengejutkan lagi, dia adalah kakak sepupu sendiri yang mana kami berdua masih ada sedikit hubungan darah (antara ibuku dan ibunya).

Ada sedikit rasa bersalah dan menyesal, tapi karena aku masih tergolong pemuda yang gampang bernafsu, aku masih memiliki pemikiran dan harapan untuk meniduri Jesi sekali lagi sebelum dia pulang ke Samarinda. Dan untungnya pemikiran atau harapanku ini tidaklah sia-sia, selama sisa 6 hari liburannya di Surabaya, kami selalu mencari kesempatan untuk ‘bercinta’. Di kamarku, di kamarnya, dan sekali di bak mandi di rumahnya.

Jesi telah berubah bukan saja sekedar kakak sepupu saja, tapi lebih menjadi guru seks-ku. Dia terlihat sangat mahir dalam memuaskan nafsu birahi laki-laki. Jurus goyang pinggulnya dengan posisi dia diatas mampu membuatku babak belur. Seakan-akan dengan posisinya di atas, memeknya terasa seperti meremas-remas dan menyedot batang penisku. Pertama kali Jesi mengenalkan jurus goyang pinggulnya, aku tidak mampu bertahan, dan hanya beberapa kali goyangan pinggulnya, aku langsung ejakulasi. Jesi sempat menyindir canda waktu itu, dan maklum melihat kejadian ini.

Sehabis setelah bersetubuh dengan Jesi, aku banyak bertanya tentang pengalaman seks-nya dengan Bram dan kadang kala aku membandingkan diriku dengan Bram. Tentu saja menurutnya, aku masih sedikit kalah dibandingkan suami-nya sendiri. Tapi Jesi mengakui kalau aku sering ‘bermain’ dengannya, aku akan lebih ‘jago’ daripada suami-nya sendiri. Masalah ukuran penis, Jesi bilang punyaku lebih panjang daripada punya Bram, tapi milik suami-nya lebih melebar kesamping alias lebih gendut. Sewaktu aku menanyakan enak mana yg panjang atau yang gendut, dia menjawab kedua-duanya memiliki keasyikan yang sangat berbeda. Dan dia menambahkan sambil bercanda alangkah lebih baik bila ada yang panjang dan gendut. Langsung aja aku merespon candanya dengan mengajak threesome dengan Bram. Jesi menjawab lebih baik dia mati daripada harus threesome dengan suami-nya sendiri.

Jesi pernah mengaku bahwa dia tidak pernah sebelumnya menaruh perasaan nafsu kepadaku. Hanya karena dia telah hilang kontak denganku lebih dari 2 tahun lamanya, dan sekembalinya dia ke Surabaya, aku telah banyak berubah terutama dari segi fisik. Dia memujiku bertambah tampan, dan bertubuh padat. Mungkin keaktifanku berenang seminggu 2 kali, menjadikan badanku terlihat padat, meskipun tidak gempal. Karena inilah Jesi mengaku bahwa dia sangat mengagumi perubahan fisikku ini, dan akhirnya memberanikan dirinya untuk mencoba seducing atau menggodaku secara seksual atau singkatnya bermain api denganku. Sebenarnya dia sendiri takut bukan main sebelum persetubuhan kami yang pertama. Takut akan penolakanku, dan takut apabila ketahuan pembantu rumahku. Tapi semenjak persetubuhan pertama kami berhasil, Jesi mengaku menjadi semakin bernafsu denganku. Tidak heran setiap kali aku meminta jatah untuk menyetubuhinya, dia tidak pernah menolak sekali pun. Kalau saja situasinya tidak mengijinkan, dia hanya berbisik atau memberi tanda untuk menahan nafsuku dulu sampai nanti situasinya mengijinkan.

Kepulangan Jesi ke Samarinda menjadi pil pahit buatku. Karena guru seks-ku meninggalkanku di Surabaya sendiri. Hampir tiap hari aku ber-masturbasi sendiri sambil membayangkan memori-memori indah menyetubuhi Jesi. Aku merasa seperti pecundang saat itu, karena hanya masturbasi yang bisa aku lakukan. Sering aku menelpon Jesi lewat hp-nya, menceritakan betapa berat aku ditinggal olehnya, dan betapa rindunya aku dengannya. Jujur saja, aku hanya rindu akan kehebatannya ‘bercinta’, bau tubuhnya, dan nikmatnya ejakulasi di dalam liang memeknya. Perlu diketahui bahwa selama bersetubuh dengan Jesi waktu itu, aku tidak pernah memakai kondom sekalipun, bahkan belum pernah memegang apa itu kondom sampai hubungan seks berikutnya dengan pacar pertamaku. Aku tidak pernah menanyakan apa Jesi oke saja dengan aku berejakulasi di dalam liang memeknya. Sempat aku kuatir apabila dia hamil karena spermaku. Namun aku lega karena setelah 1.5 tahun kemudian Jesi baru dinyatakan positif hamil. Jadi jarak waktunya berbeda jauh dengan kekhawatiranku.

Semenjak itu, aku belum pernah lagi ‘bercinta’ lagi dengan Jesi. Meskipun kadang-kadang setiap kali pulang ke Surabaya, aku sempat mengajaknya ‘1 kali saja’. Tapi ajakanku selalu ditolaknya, karena Bram ada di sana pula bersama anaknya yang baru lahir. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke Jakarta, mencari karirku di sana.

Aku belajar banyak dari Jesi, dia selalu memberiku tips-tips cara menaklukkan wanita di atas ranjang. Meskipun kami sudah tidak pernah lagi ‘bercinta’, tapi kamu masih tetap berhubungan baik. Seakan-akan tiada rasa bersalah atau rasa aneh semenjak kejadian itu di antara kami. Jesi banyak memberikan nasehat kepadaku tentang perbedaan cinta dan nafsu. Jesi jujur mengatakan kepadaku bahwa saat itu dia hanya nafsu terhadapku, dan hanya ada cinta terhadap Bram.

Tips-tips pemberian Jesi amatlah mujarab dan bervariasi. Bekas pacar-pacarku dan teman-teman ‘one night stand’ di Jakarta (maklum bila di kota metropolis ini, seks bebas telah menjadi rahasia umum) menyukai gaya permainan ranjangku.

Mungkin bila ada kesempatan, aku akan menceritakan pengalaman menarik lain yang aku alami dengan bekas pacar-pacarku, dan juga teman-teman ‘one night stand’. Perlu para pembaca cerita seru indodiva tau, banyak wanita-wanita karir dan executive di Jakarta yang tidak mengenakan celana dalam waktu mereka sedang tandang di dugem-dugem Jakarta. Percaya atau tidak, ini kebanyakan mereka lakukan dengan sengaja. Setelah aku tanyakan alasan mereka, salah satunya untuk membuatnya praktis memasukkan batang penis pasangan-nya tanpa diketahui oleh orang-orang sekitar.

Tamat

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.